PENGERTIAN
DRAMATURGI
Jika kita sering menonton film, kita akan dapat
menangkap apa itu dramaturgi dengan cukup mudah. Para sineas bisanya membuat
adegan-adegan dalam alur cerita yang memancing emosi pemirsa dalam sebuah alur
tangga yang naik turun.
Pengertian sederhananya, dramaturgi adalah alur
emosi dalam sebuah cerita. Dalam pengertian yang lain, dramaturgi adalah ajaran
tentang masalah hukum, dan konvensi /persetujuan drama. Kata drama berasal dari
bahasa Yunani yaitu dramoai yang berarti berbuat, berlaku,
beraksi, bertindak dan sebagainya, dan “drama” berarti : perbuatan,
tindakan. Ada orang yang menganggap drama sebagai lakon yang menyedihkan,
mengerikan, sehingga dapat diartikan sebagai sandiwara tragedi.
1.
Komedi
Tragedi
Drama
dapat berupa komedi dan tragedi. Kekeliruan demikian terjadi karena kekeliruan
dengan istilah drama dalam hidup keluarga. Misalnya : drama percintaan yang
maksudnya mengandung peristiwa menyedihkan, mengerikan.
2.
Arti
Drama
ü Arti pertama : Drama adalah kualitas
komunikasi, situasi,action. (segala apa yang terlintas dalam pentas) yang
menimbulkan perhatian, kehebatan (exciting), dan ketegangan pada
pendengar/penonton.
ü Arti kedua : Menurut Moulton, drama
adalah : hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Jika buku
roman menggerakan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia
diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri.
·
Menurut
Brander Mathews : Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
·
Menurut
Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan
action.
·
Menurut
Balthazar Verhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia
dengan gerak.
ü Arti ketiga : Drama adalah cerita
konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan
menggunaka percakapan dan action dihadapan penonton.
3.
Arti
Drama, Sandiwara, Tonil
Pertunjukan
drama disebut juga sandiwara. kat sandiwara itu dibuat oleh P.K.G mangkunegara
VII almarhum sebagai kata pengganti Toneel, yang pada hayat P.K.G sudah mulai
mendapat perhatian di kalangan kaum terpelajar, tetapi pada waktu itu dan
lingkungan kaum terpelajar itu yang dipergunakan masih dalam bahasa Belanda.
Kata baru “sandiwara” dibentuk dari kata “sandi: dan “Wara”, sandi (Jawa
sekarang) berarti rahasia, dan “Wara” (wara Jawa) adalah pengajaran. Demikialah
menurut Ki Hadjar Dewantara, sandiwara adalah pengajaran yang dilakukan dengan
perlambang.
Demikianlah
kupasan singkat dari kata sandiwara sebagai pengganti kata Toneel sebagai
pengganti kata drama. Sebenarnya arti kata sandiwara lebih kena dari pada kata
Toneel (bahasa belanda), yang artinya tak lain dari pada pertunjukan. Demikian
pulajuga dibandingkan dengan arti drama dalam bahasa yunani yang artinya
mula-mula tak lain dari pada “perbuatan” dan kemudian semata-mata perbuatan
diatas panggung. tetapi sungguh sayang, arti kata sandiwara yang sedalam itu
sekarang merosot, bahkan kata sandiwara bagi umum banyak menimbulkan rasa
“hina” atau ejekan. Apakah sebabnya demikian?
Oleh
karena itu dalam sandiwara memang sering terdapat hal-hal yang kurang baik,
kata seorang guru atau seorang bapak kepada anaknya, “Jangan main sandiwara
kamu”. Kata sandiwara merosot derajatnya karena yang menyelenggarakan dan yang
memelihara sandiwara kurang cakap atau kurang baik budinya. Jika kita ingin
mengembalikan arti kata sandiwara seperti yang semestinya, lapangan sandiwara
meminta juga kepada kaum terpelajar, kepada orang yang cakap, kepada yang
berjiwa seniman dan berbudi tinggi.
Formula
Dramaturgi (4M) yang dimaksud dengan formula dramaturgi atau 4M adalah :
A1 :
Menghayalkan
A2 : Menuliskan
A3 : Memainkan
A4 : Menyaksikan
A1 : Disini
untuk pertama kali manusia/pengarang menghayalkan kisah : ada
inspirasi-inspirasi, ide-ide.
A2 : Pengarang
menyusun kisah yang sama untuk kedua kalinya pengarang menulis kisah
A3 :
Pelaku-pelaku memainkan kisah yang sama untuk ketiga kalinya (action). disini
actor dan aktris yang bertindak dalam stage tertentu
A4 : Penonton
menyaksikan kisah yang sama untuk keempat kalinya.
KRITIK TERHADAP DRAMATURGI
Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi
total
Institusi
total maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh
sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang terkait
dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-ordinat yang
mana sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang berwenang atasnya.
Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan oleh kekuasan (hegemoni) dan
memiliki hierarki yang jelas. Contohnya, sekolah asrama yang masih
menganut paham pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp konsentrasi (barak
militer), institusi pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk
didalamnya rumah sakit jiwa, biara, institusi pemerintah, dan lainnya.
Dramaturgi dianggap dapat berperan baik pada instansi-instansi yang
menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki adanya “pemberontakan”. Karena
di dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial akan lebih mudah untuk
diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario semacam apa yang ingin
dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori ini harus
dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan.
Menihilkan
“kemasyarakatan”
Teori
ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa dalam tujuan sosiologi ada
satu kata yang seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan “kemasyarakatan”.
Bahwa tuntutan peran individual menimbulkan clash bila berhadapan dengan
peran kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat disinkronkan.
Dianggap
condong kepada Positifisme
Dramaturgi
dianggap terlalu condong kepada positifisme[4]. Penganut paham ini menyatakan adanya
kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan. Aturan adalah pakem
yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau tidak dapat
dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.
ANALISA DRAMATURGI
Dramaturgis
masuk dalam Perspektif Obyektif
Dramaturgis
dianggap masuk ke dalam perspektif obyektif karena teori ini cenderung melihat
manusia sebagai makhluk pasif (berserah). Meskipun, pada awal ingin memasuki
peran tertentu manusia memiliki kemampuan untuk menjadi subyektif (kemampuan
untuk memilih) namun pada saat menjalankan peran tersebut manusia berlaku
objektif, berlaku natural, mengikuti alur. Misalnya, pada kasus Kekerasan pada
Rumah Tangga (“KDRT”), saat perilaku kekerasan itu hendak terjadi,
korban sebenarnya memiliki pilihan, berserah diri atau melakukan perlawanan.
Bila ia memberontak maka konsekuensinya adalah ini dan bila ia pasrah maka
akibatnya seperti itu. Proses subyektif ini akan beralih menjadi obyektif saat
ia menjalani peran yang dipilihnya tersebut. Misalnya yang ia ambil adalah
pasrah karena ia takut kalau ia melarikan diri konsekuensinya lebih parah, atau
ia merasa terlalu tergantung kepada tersangka dan mengkhawatirkan nasih anaknya
bila ia melawan. Maka, setelah itu ia akan menjalani perannya sebagai korban.
Secara naluriah ia akan menutupi bagian tubuhnya yang mungkin menjadi sasaran
kekerasan. Atau ia berusaha untuk menutupi telinganya untuk melindungi mental
dan psikologisnya. Itulah mengapa dramaturgi di sebut memiliki muatan objektif.
Karena pelakunya, menjalankan perannya secara natural, alamiah mengetahui
langkah-langkah yang harus dijalani.
Pendekatan
Keilmuan Little John – Pendekatan Scientific (ilmiah – empiris)
Seperti telah
dijabarkan diatas, Dramaturgis merupakan teori yang mempelajari proses
dari perilaku dan bukan hasil dari perilaku. Ini merupakan asas dasar dari
penelitian-penelitian yang menggunakan pendekatan scientific[5].
Obyektifitas yang digunakan disini adalah karena institusi tempat dramaturgi
berperan adalah memang institusi yang terukur dan membutuhkan peran-peran yang
sesuai dengan semangat institusi tersebut. Institusi ini kemudian yang diklaim
sebagai institusi total sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya. Bahwa hasil
dari peranan itu sesungguhnya, bila proses (rumusnya) dijalankan sesuai dengan
standar observasi dan konsistensi maka bentuk akhirnya adalah sama. Contohnya,
bila seorang pengajar mempraktekkan cara mengajar sesuai dengan template
perguruan tinggi maka kualitas keluaran perguruan tinggi tersebut akan
menghasilkan kualitas yang bisa dikatakan relatif sama. Atau untuk contoh front
liner hotel diatas, bila front liner dapat memainkan skenario
penyambutan tamu manajemen hotel, niscaya tamu akan merasa dihargai, dihormati,
senang dan bersedia untuk datang menginap kembali di hotel tersebut.
Lengkap
ReplyDelete